Menikah tanpa Pacaran, Kok Bisa Yakin? Bukan Beli Kucing dalam Karung
Bagi sebagian orang, ide menikah lewat ta’aruf tanpa pacaran dulu terdengar menakutkan. Rasanya seperti mengambil keputusan seumur hidup tentang seseorang yang belum benar-benar kita kenal. Muncul keraguan yang jujur: bagaimana bisa yakin tanpa mengenalnya lama? Bukankah ini seperti membeli kucing dalam karung?
Kalau keraguan itu ada di hati kita, tulisan ini untuk kita. Karena di balik keraguan yang wajar itu, ada satu anggapan yang perlu diperiksa ulang.
Keraguan yang wajar, takut menikahi orang yang belum dikenal
Keraguan ini masuk akal. Menikah adalah keputusan besar, dan wajar kalau kita tidak ingin mengambilnya berdasarkan perkenalan yang terasa singkat. Keinginan untuk benar-benar mengenal sebelum memutuskan itu sehat, dan Islam pun tidak menyuruh kita menikahi orang yang benar-benar asing tanpa tahu apa pun tentangnya.
Jadi pertanyaannya bukan apakah kita perlu mengenal. Tentu perlu. Pertanyaannya adalah, apa cara mengenal yang benar-benar membuat kita tahu, dan apakah pacaran yang lama memang menjaminnya.
Pacaran yang lama bukan jaminan kita benar-benar mengenal
Di sinilah anggapan itu perlu diperiksa. Banyak yang percaya bahwa semakin lama pacaran, semakin kenal. Padahal lamanya waktu tidak otomatis berarti mengenal dengan benar.
Seseorang bisa menampilkan versi terbaik dirinya selama bertahun-tahun. Dalam hubungan yang dibangun untuk saling menyenangkan, orang cenderung menyembunyikan yang buruk dan memoles yang baik. Hal-hal yang paling menentukan, seperti bagaimana ia ketika marah, bagaimana ia memperlakukan orang tuanya, apakah ia jujur ketika tidak ada yang melihat, justru sering tidak pernah benar-benar terlihat karena semuanya berjalan di atas kesan.
Keyakinan yang dibangun hanya di atas perasaan dan kesan yang dipoles itulah yang justru lebih mendekati membeli kucing dalam karung, karena yang kita kenal adalah tampilan, bukan kenyataannya.
Taaruf bukan menikahi orang asing, tapi mengenal dengan cara yang dijaga
Ta’aruf sering disalahpahami sebagai proses yang dingin dan tanpa perkenalan, dua orang asing yang tiba-tiba menikah. Bukan itu gambarannya.
Ta’aruf adalah proses mengenal dengan hati yang terjaga. Kita tetap mengenal, tetap bertanya, tetap menimbang. Bedanya, perkenalan itu dijaga agar tidak jatuh ke kedekatan yang belum halal, dan diarahkan pada hal-hal yang benar-benar menentukan, bukan sekadar kenyamanan yang bisa menipu. Perasaan boleh ada, tapi ia tidak dijadikan satu-satunya dasar keputusan.
Dan yang membuat ta’aruf punya kejelasan adalah niatnya yang sejak awal terarah. Kita tahu proses ini untuk apa dan mau ke mana, sehingga energi tidak habis untuk menebak-nebak apakah kita berarti sesuatu atau tidak.
Keyakinan lahir dari mengenal yang benar dan tabayyun, bukan dari lamanya waktu
Kalau begitu, dari mana keyakinan itu datang? Dari mengenal hal yang benar lewat cara yang jujur, lalu memverifikasinya.
Al-Qur'an
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seseorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti."
QS. Al-Hujurat: 6
Tabayyun, memeriksa dengan teliti, adalah prinsip inti dalam ta’aruf. Keputusan sebesar akad tidak diambil dari kesan pertama atau dari cerita yang belum diverifikasi. Kita bertanya hal-hal yang tepat tentang agama, akhlak, visi rumah tangga, dan keluarga, lalu memverifikasi jawabannya lewat perantara dan orang-orang yang benar-benar mengenalnya. Cara ini sering justru lebih jujur daripada pacaran, karena ia tidak semata mengandalkan perasaan yang mudah keliru, tapi juga kesaksian dari luar.
Yang dicari ketenangan, dan sisanya diserahkan kepada Allah
Pada akhirnya, tidak ada cara mengenal, sepanjang apa pun, yang bisa memberi jaminan seratus persen tentang masa depan. Baik lewat pacaran maupun ta’aruf, selalu ada bagian yang tidak bisa kita pastikan.
Al-Qur'an
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Ia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."
Ar-Rum: 21
Maka yang kita usahakan bukan kepastian mutlak, tapi mengenal yang benar sebaik mungkin lewat cara yang dijaga, sampai hati merasa cukup tenang untuk melangkah. Sisanya, yang memang di luar jangkauan kita, kita serahkan kepada Allah yang memegang hasilnya. Keyakinan yang dibangun di atas cara yang benar dan tawakal kepada Allah jauh lebih kokoh daripada keyakinan yang bersandar pada lamanya waktu atau kuatnya perasaan.
Kalau kita ingin mengenal calon dengan cara yang jujur dan terjaga, yang membangun keyakinan di atas dasar yang benar, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.