Cara Menjawab Pertanyaan Ta'aruf: Jujur, Bukan Tampil Sempurna
Hampir semua tulisan tentang ta’aruf membahas apa yang perlu ditanyakan. Padahal ada sisi yang sama pentingnya dan jarang dibahas: bagaimana cara kita menjawab ketika kita yang ditanya. Cara seseorang menjawab sering lebih mengungkap daripada isi jawabannya.
Allah Ta’ala berfirman:
Al-Qur'an
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
QS. Al-Ahzab: 70
Menjawab dengan jujur adalah bagian dari perkataan yang benar itu. Proses yang berjalan di atas kejujuran dari kedua sisi menghasilkan keputusan yang jauh lebih solid daripada proses yang hanya terlihat baik di permukaan.
Menjawab itu setengah dari proses
Banyak orang menyiapkan daftar pertanyaan, tapi lupa menyiapkan diri untuk menjawab. Padahal di sinilah calon mengenal kita. Bukan dari seberapa rapi jawaban kita, tapi dari seberapa jujur kita saat menjawabnya.
Tujuan menjawab bukan untuk memenangkan kesan. Ia memberi pihak lain gambaran yang cukup benar tentang diri kita, supaya keputusan yang diambil berdiri di atas kenyataan, bukan di atas citra.
Jawab dengan qaulan sadidan: benar dan jujur
Qaulan sadidan adalah perkataan yang benar, tepat, dan jujur. Dalam konteks menjawab, ini berarti tidak melebih-lebihkan kelebihan dan tidak menutupi kekurangan yang akan berdampak setelah akad.
Menjawab dengan menampilkan diri yang sempurna mungkin terasa aman saat itu. Tapi citra yang tidak sesuai kenyataan adalah hutang yang akan ditagih setelah menikah. Apa pun yang kita sembunyikan sekarang akan terbawa masuk, dan biasanya lebih berat menjelaskannya nanti daripada sekarang.
Tabayyun, memeriksa dengan teliti, adalah hak pihak yang bertanya. Maka jawaban yang jujur sebenarnya menolong mereka, sebagaimana kita pun ingin ditolong dengan jawaban jujur dari pihak mereka.
Al-Qur'an
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seseorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti."
QS. Al-Hujurat: 6
Jujur tidak berarti membuka semuanya sekaligus
Ada salah paham yang umum: jujur dianggap sama dengan menumpahkan seluruh isi hati dan masa lalu di pertemuan pertama. Bukan itu.
Jujur berarti tidak berbohong dan tidak menutupi hal yang akan dihadapi bersama. Tapi urutan tetap berlaku. Hal yang berat atau sangat pribadi tidak harus dijawab tuntas sebelum kepercayaan terbangun. Kita boleh menyampaikan bahwa ada hal yang lebih nyaman dibahas di tahap berikutnya, selama itu bukan cara untuk menghindar dari yang memang penting diketahui sejak awal.
Menjaga sebagian hal bukan ketidakjujuran. Menyembunyikan hal yang akan berdampak setelah akad, itu yang menjadi masalah.
Empat sikap saat menjawab yang sulit
Ada pertanyaan yang mudah dijawab, ada yang menyentuh hal yang tidak nyaman. Beberapa sikap yang menjaga jawaban kita tetap jujur dan tetap menjaga diri:
Akui kekurangan dengan tenang. Kalau ditanya hal yang memang kelemahan kita, mengakuinya tanpa membela diri berlebihan justru lebih kuat daripada jawaban yang sempurna. Orang yang bisa mengakui kekurangan tanpa melebih-lebihkan sedang menunjukkan kejujuran.
Jangan mengarang demi terlihat cocok. Menjawab “iya” pada hal yang sebenarnya tidak kita setujui hanya menunda konflik ke setelah akad. Kalau ada perbedaan, sampaikan apa adanya. Lebih baik diketahui sekarang.
Konsisten, meski ditanya ulang. Jawaban yang jujur akan tetap sama meski pertanyaannya diputar dengan cara berbeda. Kita tidak perlu mengingat “versi” yang kita buat, karena kita hanya menyampaikan yang sebenarnya.
Tetap jaga adab dan batas. Menjawab jujur tidak berarti percakapan jadi tanpa batas. Komunikasi tetap melalui jalur yang semestinya dan melibatkan wali. Kejujuran dijaga, batas pun dijaga.
Yang dilihat dari cara kita menjawab
Pihak yang bertanya tidak hanya mendengar isi jawaban kita, ia juga membaca cara kita menjawab. Ini bukan untuk membuat kita cemas, justru sebaliknya: kalau kita menjawab dengan jujur, semua sinyal ini bekerja untuk kita, bukan melawan kita.
Tenang saat ditanya hal yang tidak nyaman lebih meyakinkan daripada jawaban yang defensif. Mengakui kekurangan lebih dipercaya daripada gambaran yang selalu sempurna. Cerita yang mengandung refleksi diri lebih jujur daripada cerita yang selalu menempatkan diri kita sebagai pihak yang benar.
Maka cara terbaik menyiapkan jawaban bukan menghafal kalimat, tapi membereskan apa yang perlu dibereskan dalam diri, lalu menjawab dari sana dengan tenang.
Tutup dengan doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan:
Hadits
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan."
HR. Muslim
Kalau kita ingin menyiapkan diri sebelum menjawab, dengan panduan yang menemani prosesnya, kita bisa mulai gratis.