Nikah Beda Usia Menurut Islam: Usia Bukan Kriterianya

Ilustrasi untuk "Nikah Beda Usia Menurut Islam: Usia Bukan Kriterianya"

Salah satu hal yang sering membuat ragu ketika mempertimbangkan calon adalah selisih usia. Kalau calonnya jauh lebih tua, atau justru lebih muda, muncul pertanyaan: apakah beda usia ini masalah menurut Islam? Apakah ia akan membuat kami tidak cocok? Dan adakah batas ideal seberapa jauh selisih usia yang wajar?

Kalau kita sedang menimbang hal ini, tulisan ini untuk kita. Karena keraguannya sering berakar pada satu anggapan yang perlu diperiksa: bahwa usia adalah ukuran penting dalam memilih pasangan.

Beda usia sering langsung dianggap masalah, padahal belum tentu

Di tengah masyarakat, selisih usia yang cukup jauh sering langsung dianggap sebagai tanda ketidakcocokan. Ada anggapan bahwa pasangan sebaiknya seumuran atau berdekatan usianya agar nyambung dan sejalan.

Anggapan ini begitu umum sampai terasa seperti kebenaran. Padahal ia lebih banyak lahir dari kebiasaan sosial daripada dari ajaran agama. Dan ketika kita memakainya sebagai ukuran utama, kita bisa saja menolak calon yang baik hanya karena angka di kartu identitasnya berbeda cukup jauh.

Usia bukan termasuk kriteria yang Allah jadikan penentu

Ketika Islam berbicara tentang apa yang perlu ditimbang dalam memilih pasangan, ada empat perkara yang disebut, dan usia tidak termasuk di antaranya.

Hadits

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung."

HR. Bukhari dan Muslim

Harta, nasab, kecantikan, dan agama. Itu yang disebut, dengan agama sebagai penentu utama. Usia tidak ada di dalam daftar ini. Ini bukan berarti usia dilarang dipertimbangkan, tapi ia jelas bukan penentu, dan tidak semestinya diletakkan lebih tinggi dari yang memang menjadi penentu.

Maka beda usia, baik calon lebih tua maupun lebih muda, pada dasarnya bukan penghalang menurut Islam.

Yang menentukan adalah agama, lalu kecocokan yang nyata

Kalau bukan usia, lalu apa yang benar-benar menentukan? Agama dan akhlak lebih dulu, sebagai fondasi.

Hadits

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

"Jika telah datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi."

HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

Yang dijadikan syarat adalah agama dan akhlak yang diridhai, bukan kedekatan usia. Setelah fondasi ini terpenuhi, barulah kita menimbang kecocokan yang nyata: kesamaan visi rumah tangga, nilai, dan kesiapan menjalani hidup bersama. Kecocokan ini tidak ditentukan oleh angka usia. Dua orang seumuran bisa berbeda arah hidup, dan dua orang yang beda usia bisa sangat selaras karena tujuannya sama.

Beda usia boleh, tapi kecocokan tetap ditimbang dengan jujur

Meski usia bukan penghalang, bukan berarti ia sama sekali tidak perlu dibicarakan. Perbedaan usia kadang membawa perbedaan tahap hidup, cara pandang, atau harapan tentang masa depan.

Hal-hal ini boleh dan sebaiknya dibicarakan dengan jujur dalam proses mengenal, lewat pertanyaan yang tepat dan lewat perantara. Bukan untuk menjadikan usia sebagai alasan membatalkan, tapi untuk memastikan kecocokan yang sesungguhnya. Yang kita periksa bukan selisih angkanya, tapi apakah perbedaan itu, jika ada, bisa dijembatani dengan kesamaan visi dan kesiapan yang lebih mendasar.

Jangan jadikan angka sebagai tembok maupun diabaikan sama sekali

Ada dua sisi yang sama-sama perlu dijaga. Di satu sisi, jangan menjadikan beda usia sebagai tembok yang otomatis membatalkan calon yang baik agama dan akhlaknya, karena itu berarti mendahulukan sesuatu yang bukan kriteria di atas yang memang kriteria.

Di sisi lain, jangan pula menganggap usia sama sekali tidak berarti apa-apa lalu mengabaikan kecocokan nyata yang perlu ditimbang. Sikap yang benar ada di tengah: mengutamakan agama dan akhlak sebagai penentu, menimbang kecocokan visi dan kesiapan dengan jujur, dan menempatkan usia sebagai salah satu hal yang dibicarakan, bukan yang memutuskan.

Kalau kita ingin menimbang calon dengan mengutamakan yang benar-benar menentukan, bukan terpaku pada angka usia, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah menikah beda usia jauh diperbolehkan dalam Islam?
Boleh. Usia bukan termasuk kriteria yang Allah dan Rasul-Nya jadikan penentu dalam memilih pasangan. Yang disebut dalam hadits adalah empat perkara: harta, nasab, kecantikan, dan agama, dengan agama sebagai penentu, dan usia tidak ada di antaranya. Maka beda usia, baik calon lebih tua maupun lebih muda, pada dasarnya tidak menjadi penghalang selama agama dan akhlaknya baik serta ada kecocokan yang cukup.
Apakah beda usia membuat pasangan tidak cocok?
Tidak otomatis. Kecocokan tidak ditentukan oleh sama atau berbedanya usia, tapi oleh kesamaan visi, nilai, dan kesiapan menjalani rumah tangga. Pasangan seumuran bisa saja tidak cocok karena arah hidup yang berbeda, sementara pasangan yang beda usia bisa sangat selaras karena tujuan dan nilainya sama. Yang perlu diperiksa adalah kecocokan yang nyata, bukan sekadar kedekatan angka.
Berapa beda usia yang ideal untuk menikah?
Islam tidak menetapkan angka ideal beda usia, karena usia memang bukan kriteria penentu. Yang lebih penting daripada mencari selisih angka tertentu adalah memeriksa agama dan akhlak calon, kesamaan visi rumah tangga, dan kesiapan kedua pihak. Beda usia boleh dibicarakan sebagai bagian dari kecocokan praktis, tapi ia tidak semestinya menjadi syarat yang menggugurkan calon yang baik.

← Semua tulisan