Orang Tua Belum Merestui Calon: Antara Menghormati dan Meyakinkan

Ilustrasi untuk "Orang Tua Belum Merestui Calon: Antara Menghormati dan Meyakinkan"

Ada situasi yang terasa seperti berdiri di antara dua hal yang sama-sama kita sayangi. Di satu sisi, orang tua, yang restunya kita harapkan dan penghormatannya wajib kita jaga. Di sisi lain, seseorang yang sudah kita kenali dengan cara yang dijaga, yang kita rasa cocok untuk menemani hidup. Dan orang tua belum merestui.

Kalau kita sedang berada di posisi itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk memilih salah satu, tapi untuk mendudukkannya dengan adab dan kepala yang jernih.

Restu orang tua bukan hal kecil, dan bukan untuk dilawan

Hal pertama yang perlu didudukkan: restu orang tua bukan formalitas yang bisa dilewati. Menghormati dan berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang besar dalam Islam, dan itu tidak gugur hanya karena kita sudah dewasa atau sudah merasa yakin dengan pilihan kita.

Keberatan orang tua pun jarang lahir dari keinginan menyusahkan. Lebih sering ia lahir dari kasih sayang, dari kekhawatiran, dari pengalaman yang mereka punya dan kita belum. Maka jalan pertama bukan melawan, dan bukan diam-diam menempuh jalan sendiri di belakang mereka. Jalan pertama adalah mendengar.

Periksa dulu dari mana keberatan itu datang

Sebelum memutuskan apa pun, ada satu hal yang perlu kita periksa dengan jujur. Dari mana sebenarnya keberatan itu datang.

Keberatan orang tua biasanya berakar pada salah satu dari dua hal. Bisa jadi menyangkut agama dan akhlak calon, atau menyangkut hal duniawi seperti harta, pekerjaan, suku, atau penampilan. Keduanya perlu disikapi, tapi dengan cara yang berbeda, karena bobotnya dalam Islam memang berbeda.

Memisahkan keduanya membantu kita tahu, apakah yang perlu kita perbaiki adalah calonnya, atau justru cara pandang yang sedang dipakai untuk menilai.

Kalau keberatannya soal agama dan akhlak, itu pertimbangan yang benar

Kalau orang tua ragu karena melihat sesuatu pada agama atau akhlak calon, ini keberatan yang layak kita dengarkan dengan serius, bukan kita tepis.

Hadits

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung."

HR. Bukhari dan Muslim

Agama dan akhlak adalah penentu, bukan pelengkap. Kadang orang tua, dengan pengalaman hidup mereka, justru melihat sesuatu yang tidak kita lihat karena hati kita sudah terlanjur condong. Kalau memang ada yang mengganjal pada sisi ini, kejujuran untuk menimbangnya ulang jauh lebih menyelamatkan daripada mempertahankan pilihan hanya karena tidak mau kalah.

Ini bukan berarti setiap keberatan pasti benar. Tapi keberatan pada sisi agama dan akhlak selalu layak diperiksa lebih dulu sebelum dibela.

Kalau keberatannya soal dunia, dudukkan dengan jujur dan sabar

Sebaliknya, kalau agama dan akhlak calon sudah baik, dan keberatan orang tua ternyata berakar pada hal duniawi, di sinilah kita perlu mendudukkannya dengan sabar.

Harta, nasab, dan penampilan boleh dipertimbangkan, Islam tidak menutup mata dari itu. Tapi ketiganya bukan penentu utama. Ketika yang paling penting sudah terpenuhi, yaitu agama dan akhlak, hal-hal duniawi tidak semestinya menjadi tembok yang membatalkan.

Hadits

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

"Jika telah datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi."

HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

Tugas kita di sini bukan membantah, tapi meyakinkan dengan lembut. Sampaikan apa yang membuat kita menimbang calon ini, tunjukkan agama dan akhlaknya lewat bukti bukan sekadar kata, dan bantu orang tua melihat apa yang lebih utama. Sering kali yang paling menolong bukan kita sendiri yang berbicara, tapi perantara dari keluarga yang dipercaya, seperti paman atau kakak, yang bisa menjembatani percakapan dengan lebih tenang.

Tempuh jalan adab, lalu serahkan hasilnya kepada Allah

Setelah semua ditempuh dengan cara yang baik, tetap ada bagian yang bukan milik kita untuk memaksakan. Hati orang tua ada di tangan Allah, sebagaimana hasil dari setiap ikhtiar.

Al-Qur'an

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."

At-Thalaq: 3

Bagian kita adalah menempuh jalan yang benar: mendengar, memperbaiki, meyakinkan dengan adab, dan bersabar tanpa melangkahi orang tua. Bagian Allah adalah membuka hati, melembutkan yang keras, atau mengarahkan pada yang lebih baik dengan cara yang kadang tidak kita duga. Doa yang tulus untuk dilembutkan hatinya dan doa memohon petunjuk adalah bagian dari ikhtiar ini, bukan pelengkap di akhir.

Kalau ternyata jalannya belum terbuka juga, itu bukan akhir dari segalanya, dan bukan tanda Allah meninggalkan kita. Kadang di balik pintu yang belum terbuka ada penjagaan yang belum kita pahami. Yang penting kita sudah menempuhnya dengan cara yang dijaga, dengan orang tua tetap di sisi kita, bukan di seberang kita.

Kalau kita ingin menyiapkan diri dan proses yang lebih meyakinkan, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang harus dilakukan jika orang tua belum merestui calon?
Mulai dari mendengar alasan mereka dengan sungguh-sungguh, bukan langsung melawan atau diam-diam menempuh jalan sendiri. Periksa apakah keberatan itu menyangkut agama dan akhlak calon, atau menyangkut hal duniawi. Lalu buka komunikasi dengan adab, idealnya lewat perantara keluarga yang dipercaya, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Menghormati orang tua dan berusaha meyakinkan mereka bisa berjalan bersamaan.
Apakah restu orang tua penting dalam pernikahan?
Sangat penting, dan menghormati orang tua adalah kewajiban yang besar dalam Islam. Keberatan orang tua sering lahir dari kasih sayang dan kekhawatiran, bukan dari keinginan menyusahkan. Karena itu keberatan mereka layak didengar dan ditimbang, bukan diabaikan. Jalan yang benar bukan melangkahi mereka, tapi berusaha membuka hati mereka dengan cara yang baik sambil memperbaiki apa yang menjadi ganjalan.
Bagaimana jika orang tua menolak calon karena harta atau suku?
Harta, nasab, dan penampilan boleh menjadi pertimbangan, tapi ia bukan penentu utama dalam memilih pasangan. Yang menjadi penentu adalah agama dan akhlak. Kalau keberatan orang tua berakar pada hal duniawi sementara agama dan akhlak calon baik, sampaikan dengan sabar dan adab, bantu mereka melihat apa yang lebih utama, dan libatkan perantara keluarga yang bisa menjembatani. Bukan dengan membantah, tapi dengan kelembutan yang tidak menyerah.

← Semua tulisan