Dijodohkan Orang Tua: Antara Kerelaan dan Paksaan

Ilustrasi untuk "Dijodohkan Orang Tua: Antara Kerelaan dan Paksaan"

Dijodohkan oleh orang tua bisa menimbulkan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ada rasa hormat dan ingin menyenangkan mereka, di sisi lain ada suara di dalam diri yang bertanya: apakah aku harus menurut? Apa bedanya ini dengan dipaksa? Dan bolehkah aku menolak kalau ternyata tidak sreg?

Kalau kita sedang berada di posisi itu, tulisan ini untuk kita. Karena kebingungan ini sering lahir dari mencampur dua hal yang sebenarnya berbeda.

Dijodohkan sering langsung terdengar seperti dipaksa, padahal berbeda

Begitu mendengar kata dijodohkan, banyak orang langsung membayangkan paksaan, kehilangan pilihan, dan harus menerima siapa pun yang ditentukan tanpa suara. Gambaran itu membuat sebagian orang menolak ide dijodohkan bahkan sebelum memahaminya.

Padahal dijodohkan dan dipaksa adalah dua hal yang berbeda. Yang satu bisa sejalan dengan adab dan syariat, yang lain justru bertentangan dengannya. Membedakan keduanya adalah langkah pertama untuk menyikapi ini dengan tenang.

Dijodohkan yang menghormati kerelaan justru bisa jadi kebaikan

Dijodohkan, pada dasarnya, berarti orang tua atau keluarga membantu mempertemukan kita dengan calon yang mereka anggap baik. Dan ini sebenarnya sejalan dengan peran ideal wali dalam proses ta’aruf.

Orang tua dan wali termasuk pihak yang paling berhak menjaga proses ini, dan yang paling berkepentingan untuk memastikannya berjalan baik. Ketika mereka mengusulkan calon, sering kali itu lahir dari kasih sayang dan pengalaman yang kita belum punya. Dijodohkan yang seperti ini, yang menghormati kerelaan dan tetap memberi ruang untuk mengenal dan menimbang, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ia justru bisa menjadi jalan yang terjaga, karena prosesnya sejak awal melibatkan orang-orang yang menjaga.

Yang bermasalah bukan dijodohkannya, tapi paksaannya

Yang menjadi masalah bukan pada dijodohkannya, tapi ketika ia berubah menjadi paksaan tanpa kerelaan.

Hadits

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

HR. Bukhari dan Muslim

Pernikahan adalah keputusan yang akan dijalani seumur hidup, dan keputusan sebesar itu perlu berpijak pada niat dan kesiapan, bukan semata pada tekanan. Seseorang yang menikah hanya karena tidak berani menolak, tanpa kerelaan yang sesungguhnya, membawa masalah itu masuk ke dalam rumah tangganya. Islam mensyaratkan persetujuan justru untuk menjaga hal ini. Menikahkan seseorang dengan paksaan, tanpa memberi ruang untuk menimbang dan menyetujui, bukan yang diajarkan.

Jadi pertanyaannya bukan “boleh atau tidak dijodohkan”, tapi “apakah keputusan ini diambil dengan kerelaan, atau dengan terpaksa”.

Menolak dengan adab itu boleh, terutama kalau soal agama

Karena persetujuan adalah bagian dari proses yang benar, maka menolak calon yang dijodohkan, jika memang ada alasan yang jujur, bukanlah kedurhakaan.

Hadits

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung."

HR. Bukhari dan Muslim

Kalau ketidakcocokan yang kita rasakan menyangkut agama dan akhlak calon, itu alasan yang paling layak untuk dipertimbangkan serius, karena di situlah fondasi rumah tangga. Yang perlu dijaga adalah caranya. Menolak disampaikan dengan adab, lewat komunikasi yang baik, tanpa merendahkan orang tua maupun calon. Yang tidak dianjurkan adalah dua ekstrem: menolak mentah tanpa mau mengenal lebih dulu, atau menerima karena tidak enak hati padahal hati sebenarnya menolak.

Kenali dulu dengan cara yang dijaga, baru putuskan dari kesiapan

Maka jalan yang paling sehat ketika dijodohkan bukan langsung menolak, dan bukan pula langsung menyerah buta. Tapi mengenal calon lebih dulu dengan cara yang dijaga.

Manfaatkan bahwa proses ini sudah melibatkan keluarga. Kenali agama dan akhlaknya, tanyakan hal-hal yang perlu diketahui lewat cara yang terjaga, dan periksa dengan jujur apakah ada kecocokan yang cukup untuk membangun rumah tangga. Dari situ, keputusan bisa diambil dari kesiapan dan keridhaan, bukan dari paksaan maupun penolakan yang tergesa. Dengan begitu, kita tetap menghormati orang tua sekaligus jujur pada diri sendiri, dan keduanya tidak harus bertabrakan.

Kalau kita ingin mengenali calon yang dijodohkan dengan cara yang dijaga, lalu memutuskan dari pertimbangan yang jujur, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah dijodohkan orang tua diperbolehkan dalam Islam?
Dijodohkan pada dasarnya boleh dan bahkan bisa menjadi kebaikan, karena orang tua atau wali termasuk pihak yang paling berhak dan paling berkepentingan menjaga proses ini. Yang menjadi syarat adalah adanya kerelaan dari kedua pihak. Pernikahan dibangun di atas persetujuan, bukan pemaksaan. Jadi dijodohkan yang menghormati persetujuan itu baik, sementara menjodohkan dengan paksaan tanpa kerelaan bukan yang Islam ajarkan.
Apa bedanya dijodohkan dengan dipaksa menikah?
Bedanya ada pada kerelaan. Dijodohkan berarti orang tua membantu mempertemukan dan mengusulkan calon, tapi keputusan akhir tetap diambil dengan persetujuan yang bersangkutan setelah mengenal secukupnya. Dipaksa berarti keputusan dijatuhkan tanpa memberi ruang untuk menimbang atau menolak. Yang pertama sejalan dengan adab dan syariat, yang kedua adalah hal yang perlu diluruskan dengan cara yang tetap menjaga adab kepada orang tua.
Bolehkah menolak dijodohkan orang tua kalau tidak sreg?
Boleh, karena persetujuan adalah bagian dari sahnya pernikahan, dan menolak bukan berarti durhaka jika disampaikan dengan adab dan alasan yang jujur. Terutama jika ketidakcocokannya menyangkut agama dan akhlak, itu alasan yang layak. Yang tidak dianjurkan adalah menolak mentah tanpa mau mengenal lebih dulu, atau menerima karena tidak enak padahal hati menolak. Jalan terbaik adalah mengenal calon dengan cara yang dijaga, lalu memutuskan dari pertimbangan yang jujur.

← Semua tulisan