Cinta dalam Diam Menurut Islam: Yang Terasa Itu Suka, Bukan Cinta

Ilustrasi untuk "Cinta dalam Diam Menurut Islam: Yang Terasa Itu Suka, Bukan Cinta"

Banyak yang menyebutnya cinta dalam diam. Rasa yang datang ke seseorang, disimpan sendiri, tidak pernah diucapkan, kadang sampai bertahun-tahun. Sebagian bertanya apakah ini dosa. Sebagian bertanya bagaimana cara menghapusnya. Sebagian lagi diam-diam berharap rasa itu berujung baik.

Sebelum bicara boleh atau tidak, ada satu hal yang perlu kita dudukkan dulu. Apa sebenarnya nama dari rasa ini.

Yang terasa itu nyata, tapi belum tentu namanya cinta

Rasa itu nyata. Deg-degan saat namanya muncul, senang yang tiba-tiba ketika ia lewat, dunia yang terasa lebih berwarna. Kita tidak perlu berpura-pura tidak merasakannya, dan merasakannya pun bukan aib.

Tapi dalam Islam, cinta yang sebenarnya bukan sekadar getaran yang datang duluan. Yang kita rasakan sebelum ada proses apa pun, sebelum ada ikatan, sebelum ada hak yang Allah berikan, lebih tepat disebut suka, atau kecenderungan hati. Bukan cinta.

Cinta yang sebenarnya bukan sesuatu yang menyambar lalu kita tunggu buktinya. Ia dibangun, dan ia dipilih. Tempatnya setelah menikah, ketika sudah ada ikatan yang sah dan dua orang memang memutuskan untuk saling menjaga. Menyebut rasa yang belum berlabuh sebagai cinta cuma membuat kita menuntut darinya lebih dari yang bisa ia beri, dan menaruh hati di tempat yang belum jadi tempatnya.

Kenapa rasa yang belum berlabuh sering menguras hati dan jiwa

Ketergantungan punya cara kerjanya sendiri. Ia tidak terasa seperti masalah di awal. Bahkan ia terasa seperti perasaan yang paling hidup yang pernah kita rasakan.

Tapi kemudian, perlahan, kita mulai membutuhkan lebih banyak untuk merasakan hal yang sama. Satu kali melihat kabarnya tidak cukup. Kita mulai mencari-cari, menduga-duga, cemas di celah-celah yang dulu tidak pernah kita sadari.

Al-Qur'an

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Ar-Ra'd: 28

Rasa yang dipendam tanpa arah, kepada seseorang yang belum punya hak apa pun atas hati kita, pelan-pelan menempati posisi yang seharusnya hanya milik Allah. Ia jadi sumber tenang kita, tempat kita berharap. Padahal hati yang bergantung pada yang belum halal seperti ember berlubang di dasarnya. Kita terus mengisinya dengan angan dan harapan, tapi ia terus kosong.

Menjaga rasa berarti menjaga pandangan dan jarak

Kalau rasa itu bukan dosa, lalu apa yang perlu dijaga? Yang perlu dijaga adalah apa yang kita lakukan dengan rasa itu.

Al-Qur'an

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

"Katakanlah kepada laki-laki beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka."

QS. An-Nur: 30

Ini bukan sekadar soal mata. Pandangan adalah pintu hati. Yang masuk lewat mata akan tinggal di hati, dan yang tinggal di hati akan mempengaruhi keputusan. Rasa yang terus diberi makan, dipandang lagi dan diamati lagi, akan tumbuh lebih besar dari yang kita kira.

Perintah ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan beriman. Menjaga rasa berarti tidak memberinya jalan untuk membesar ke arah yang tidak terjaga.

Diam yang menjaga, bukan diam yang mendekat

Ada dua macam diam. Ada diam yang menjaga, yaitu menahan diri, menundukkan pandangan, tidak mengumbar rasa, sambil menyerahkan urusannya kepada Allah. Diam seperti ini terpuji.

Tapi ada juga diam yang sebenarnya sedang mendekat. Memendam rasa sambil diam-diam menyimak semua kabarnya, membangun angan tentang masa depan bersama, mencari cara agar ia tahu tanpa harus mengatakannya, atau membuka komunikasi yang tidak layak diperlihatkan kepada wali.

Al-Qur'an

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan."

QS. Al-Isra: 32

Perhatikan lafalnya. Yang dilarang adalah mendekati, bukan hanya melakukan. Chat tanpa hajat, mengumbar kode, stalking sampai jadi obsesi, membangun kedekatan yang tersembunyi, semua itu bentuk mendekati, meski dibungkus kata cinta dalam diam. Ada kaidah sederhana untuk memeriksanya. Kalau kita tidak nyaman seandainya orang tua atau wali tahu apa yang sedang kita lakukan dengan rasa ini, berarti ia sudah melampaui batas.

Kalau rasa itu ingin diarahkan ke tempat yang benar

Kalau rasa suka ini benar-benar serius, memendamnya bertahun-tahun bukan bentuk menjaga. Ia justru meninggalkan hati menggantung tanpa arah dan tanpa kejelasan.

Islam tidak menyuruh kita mematikan rasa, tapi mengarahkannya pada jalan yang jelas dan dijaga. Bukan dengan mendekati sendiri secara diam-diam, tapi lewat perantara yang mengetahui, dengan niat yang jelas menuju pernikahan, dan dengan batas yang dijaga. Di situlah rasa suka punya kemungkinan tumbuh menjadi cinta yang sebenarnya, yang dibangun setelah ada ikatan, bukan yang dipelihara sebelum ada apa-apa.

Dan kalau ternyata ia tidak berujung ke sana, hati yang tempat bersandarnya sudah benar tidak akan hancur. Karena tenang kita tidak pernah kita titipkan pada seseorang yang belum tentu menjadi bagian dari jalan kita.

Kalau kita ingin mengarahkan rasa ini pada jalan yang dijaga, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa hukum cinta dalam diam menurut Islam?
Rasa suka yang muncul kepada lawan jenis pada dirinya bukan dosa, karena ia sering datang tanpa diminta. Yang dinilai adalah apa yang kita lakukan dengan rasa itu. Jika ia mendorong kita mendekati yang dilarang, seperti mencari-cari kabarnya, chat tanpa hajat, atau menghidupkan angan yang melalaikan, di situlah ia mulai membawa masalah. Menjaganya berarti tidak memberinya jalan untuk mendekati yang haram.
Apakah cinta dalam diam sama dengan cinta?
Dalam Islam, cinta yang sebenarnya bukan sekadar getaran yang datang duluan. Yang terasa sebelum ada proses apa pun lebih tepat disebut suka atau kecenderungan hati. Cinta dibangun dan dipilih, dan tempatnya adalah setelah menikah, ketika ada ikatan yang sah dan hak yang Allah berikan. Menyebut rasa yang belum berlabuh sebagai cinta sering membuat kita menuntut darinya lebih dari yang bisa ia beri.
Bagaimana cara menghadapi rasa suka sebelum menikah?
Tidak dengan menyalahkan diri karena punya rasa, tapi juga tidak dengan memeliharanya diam-diam sampai jadi ketergantungan. Jaga pandangan, jaga jarak, dan jangan beri rasa itu makanan berupa stalking atau komunikasi tanpa hajat. Kalau memang serius, arahkan pada jalan yang jelas dan dijaga, lewat perantara, menuju pernikahan, bukan dipendam tanpa arah.

← Semua tulisan