Gagal Taaruf Berkali-kali: Yang Berakhir Bukan Berarti Kamu yang Salah

Ilustrasi untuk "Gagal Taaruf Berkali-kali: Yang Berakhir Bukan Berarti Kamu yang Salah"

Ada lelah yang khas, yang hanya dikenali oleh orang yang sudah beberapa kali menjalaninya. Sudah mencoba taaruf, sudah berharap, sudah menyiapkan hati, lalu prosesnya berhenti. Kemudian mencoba lagi, dan berhenti lagi. Setelah beberapa kali, muncul satu pikiran yang berat: jangan-jangan ada yang salah dengan diriku.

Kalau kita sedang membawa lelah seperti itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk memberi janji manis, tapi untuk mendudukkan lelah ini di tempat yang benar.

Capek dan takut mencoba lagi itu wajar, dan tidak perlu dimalukan

Hal pertama yang perlu ditegaskan: capek setelah beberapa kali gagal itu wajar. Takut mencoba lagi juga wajar. Ini bukan tanda iman yang lemah atau kurang bersyukur, ini respons manusiawi terhadap harapan yang berkali-kali tidak berujung seperti yang kita inginkan.

Kita tidak perlu memaksa diri langsung kuat, langsung ikhlas, langsung semangat lagi. Mengakui bahwa ini melelahkan adalah kejujuran, dan kejujuran itu justru langkah pertama untuk bisa melangkah lagi dengan hati yang lebih sehat.

Yang berakhir bukan berarti kamu yang salah

Di sinilah salah paham yang paling melukai perlu diluruskan. Proses yang berakhir bukan penilaian tentang nilai diri kita.

Sebuah proses bisa berhenti karena banyak hal, dan sebagian besar tidak ada hubungannya dengan kualitas kita sebagai pribadi. Bisa jadi soal kecocokan yang mendasar, soal waktu yang belum tepat, soal keputusan pihak lain yang punya pertimbangannya sendiri, atau hal-hal yang memang di luar kendali kita. Penolakan dan kandasnya sebuah proses adalah bagian dari ikhtiar, dan yang berakhir bukan berarti yang salah.

Menyimpulkan bahwa diri kita bermasalah hanya karena beberapa proses tidak berlanjut sering kali keliru. Ia menambahkan luka di atas lelah, dan luka itulah yang paling menghalangi kita untuk melangkah lagi.

Boleh memeriksa pola, tanpa menyalahkan diri

Ini bukan berarti kita menutup mata dan menganggap semuanya di luar kendali. Ada ruang untuk memeriksa dengan jujur, apakah ada pola yang bisa diperbaiki.

Mungkin ada cara berkomunikasi yang bisa dibenahi, ada kesiapan yang masih perlu ditumbuhkan, atau ada harapan yang perlu diluruskan. Memeriksa hal-hal ini berguna, karena ia membantu kita tumbuh. Tapi ada garis tipis yang perlu dijaga: memeriksa pola untuk memperbaiki diri itu sehat, sementara menyalahkan diri atas segala sesuatu, termasuk yang di luar kendali kita, itu melumpuhkan.

Bedanya sederhana. Memeriksa pola bertanya, apa yang bisa aku pelajari dari sini? Menyalahkan diri berkata, memang akulah masalahnya. Yang pertama membangun, yang kedua menghancurkan.

Kadang berhentinya sebuah proses justru bentuk penjagaan

Ada sudut pandang yang sering terlewat ketika kita sedang kecewa. Bahwa berhentinya sebuah proses, betapapun sakitnya, kadang adalah bentuk penjagaan dari Allah atas sesuatu yang belum bisa kita lihat dari tempat kita berdiri sekarang.

Al-Qur'an

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."

At-Thalaq: 3

Kita tidak selalu tahu kenapa sebuah pintu tertutup. Tapi kita tahu siapa yang menutupnya, dan bahwa Dia tidak pernah menutup sesuatu untuk seorang hamba yang bertawakal kecuali ada kebaikan di baliknya, meski kebaikan itu belum kelihatan hari ini. Apa yang terasa seperti kegagalan beruntun bisa jadi adalah rangkaian penjagaan yang baru akan kita pahami maknanya di kemudian hari.

Tidak ada satu pun penjagaan yang Allah sia-siakan

Dan ini yang perlu kita bawa pulang. Setiap kali kita memilih menempuh proses yang dijaga, setiap kali kita bersabar, berdoa, dan berusaha menjaga diri meski hasilnya belum datang, tidak ada satu pun dari itu yang menguap sia-sia.

Al-Qur'an

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."

At-Taubah: 120

Tidak menyia-nyiakan, satu pun. Usaha kita untuk menempuh jalan yang benar tercatat, meski prosesnya berkali-kali berhenti. Maka gagal berkali-kali bukan berarti kita berjalan sia-sia. Ia berarti kita sudah berkali-kali memilih menjaga diri, dan itu bukan kesia-siaan di mata Allah, sekalipun terasa demikian di mata kita.

Kalau hari ini kita masih lelah, tidak apa-apa beristirahat sejenak. Tapi ketika hati sudah lebih tenang, mencoba lagi bukan tanda kita tidak belajar, ia tanda kita masih percaya bahwa jalan yang dijaga tetap layak ditempuh.

Kalau kita ingin mencoba lagi dengan hati yang lebih tenang, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Kenapa taaruf saya selalu gagal berkali-kali?
Berakhirnya sebuah proses bisa disebabkan banyak hal, dan sebagian besar tidak ada hubungannya dengan nilai diri kita. Bisa jadi soal kecocokan yang mendasar, soal waktu, soal keputusan pihak lain, atau hal-hal yang memang di luar kendali kita. Yang berguna bukan menyalahkan diri, tapi memeriksa dengan jujur apakah ada pola yang bisa diperbaiki, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah tanpa menghukum diri sendiri.
Apakah gagal taaruf berkali-kali tanda ada yang salah dengan saya?
Tidak. Proses yang berakhir bukan penilaian tentang nilai diri kita. Penolakan atau kandasnya sebuah proses bisa berarti banyak hal yang tidak berhubungan dengan kualitas kita sebagai pribadi. Menyimpulkan bahwa diri bermasalah hanya karena beberapa proses tidak berlanjut sering kali keliru, dan justru menambah luka yang menghalangi langkah berikutnya.
Bagaimana cara bangkit setelah gagal taaruf berulang kali?
Mulai dari mengakui bahwa capek dan kecewa itu wajar, tanpa memaksa diri langsung kuat. Lalu pisahkan dua hal: memeriksa apa yang bisa diperbaiki, dan berhenti menyalahkan diri atas apa yang di luar kendali. Kembalikan hasil kepada Allah, yang tidak pernah menyia-nyiakan usaha kita untuk menjaga diri, dan yakini bahwa berhentinya sebuah proses kadang adalah penjagaan dari sesuatu yang belum kita pahami.

← Semua tulisan