Cinta Beda Agama Menurut Islam: Rasa Itu Nyata, tapi Jalannya Tertutup

Ilustrasi untuk "Cinta Beda Agama Menurut Islam: Rasa Itu Nyata, tapi Jalannya Tertutup"

Ada cinta yang datang tanpa permisi, lalu berbenturan dengan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Rasa itu tumbuh kepada seseorang yang berbeda agama. Dan sekarang, di antara perasaan yang nyata dan keyakinan yang kita pegang, muncul pertanyaan yang berat: apakah ini bisa dilanjutkan, atau harus dihentikan?

Kalau kita sedang berada di persimpangan itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk menghakimi perasaan, tapi untuk mendudukkannya dengan jujur, meski jawabannya mungkin tidak mudah.

Rasa itu nyata, dan mengakuinya bukan sebuah dosa

Pertama, ada baiknya kita jujur dulu. Rasa itu nyata. Ketertarikan, kenyamanan, bahkan kasih sayang yang tumbuh kepada seseorang, itu tidak selalu bisa kita atur kedatangannya.

Munculnya rasa kepada seseorang, termasuk yang berbeda agama, pada dirinya bukan dosa yang membuat kita harus menghukum diri. Perasaan sering datang lebih dulu sebelum akal sempat menimbang. Jadi kita tidak perlu berpura-pura tidak merasakannya, dan tidak perlu membenci diri karena merasakannya. Yang menentukan bukan munculnya rasa, tapi ke mana kita membawanya.

Tapi ada satu batas yang Allah sebut langsung dan tegas

Dalam memilih pasangan, ada banyak hal yang bisa dipertimbangkan dan ditawar. Tapi ada satu hal yang tidak. Kesamaan agama, dalam arti sama-sama beriman, bukan sekadar salah satu pertimbangan, ia adalah satu-satunya penghalang yang Allah sebut langsung dan eksplisit dalam Al-Quran.

Al-Qur'an

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ

"Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik meskipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kalian menikahkan laki-laki musyrik hingga mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka."

QS. Al-Baqarah: 221

Perhatikan satu kalimat di dalamnya: meskipun ia menarik hatimu. Allah tidak menutup mata dari kenyataan bahwa ketertarikan itu ada dan bisa kuat. Justru di tengah ketertarikan itulah batas ini ditegaskan. Ketertarikan, seberapa pun besarnya, tidak mengubah hukum ini.

Kenapa batas ini bukan kekejaman, tapi penjagaan

Sekilas, batas ini mungkin terasa berat, bahkan tidak adil bagi yang sedang merasakannya. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, ia bukan kekejaman. Ia penjagaan.

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang yang saling suka. Ia fondasi sebuah rumah, tempat anak-anak tumbuh, tempat nilai-nilai diwariskan, dan arah utamanya adalah akhirat. Ketika dua fondasi yang paling mendasar berbeda, yaitu keyakinan tentang siapa yang disembah dan ke mana hidup diarahkan, rumah itu dibangun di atas dua arah yang saling tarik. Allah, dalam ayat tadi, menyebut alasannya dengan jelas: mereka mengajak ke neraka. Batas ini menjaga kita dari membangun sesuatu yang paling berharga di atas fondasi yang berbeda arah.

Bukan karena orangnya buruk sebagai manusia. Tapi karena tujuan yang paling besar dari pernikahan tidak bisa ditempuh bersama ketika keyakinan yang paling dasar berbeda.

Memelihara rasa pada jalan yang tertutup hanya memperpanjang luka

Kalau jalannya memang tertutup, maka memelihara rasa itu, berharap suatu saat ia akan berujung baik, justru bukan bentuk kesetiaan. Ia hanya memperpanjang luka.

Semakin lama rasa dipelihara pada sesuatu yang tidak mungkin dilanjutkan dengan cara yang halal, semakin dalam ia mengakar, dan semakin sakit ketika akhirnya harus dilepas. Menahannya sambil berharap adalah menunda kesakitan sekaligus memperbesarnya. Yang lebih menyelamatkan, meski terasa berat di awal, adalah menjaga pandangan dan jarak, dan tidak memberi rasa itu makanan untuk tumbuh lebih besar.

Arahkan hati pada jalan yang terbuka dan dijaga

Melepas bukan berarti hati kita rusak atau tidak akan pernah pulih. Ia berarti kita memindahkan hati dari jalan yang tertutup ke jalan yang terbuka.

Kembalikan sandaran hati kepada Allah lebih dulu, karena hanya di sana ketenangan yang sejati berada, bukan pada seseorang yang jalan menuju halalnya memang tidak ada. Beri waktu bagi rasa itu untuk mereda, dan percayalah bahwa Allah tidak menutup satu pintu tanpa membuka yang lebih baik bagi hamba yang menaati-Nya. Lalu, ketika hati sudah lebih lapang, arahkan langkah pada jalan yang dijaga menuju pasangan yang seiman, yang bersamanya kita bisa membangun rumah dengan satu arah yang sama.

Kalau kita ingin mengarahkan hati pada jalan yang terbuka dan menyiapkan diri untuk jodoh yang seiman, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah boleh menikah beda agama menurut Islam?
Tidak. Kesamaan agama, dalam arti sama-sama beriman, adalah satu-satunya penghalang yang Allah sebut langsung dan eksplisit dalam Al-Quran soal memilih pasangan. Menikahi orang yang tidak seiman tidak dibolehkan, seberapa pun kuatnya ketertarikan atau perasaan yang ada. Ini bukan soal selera atau pertimbangan yang bisa ditawar, tapi batas yang Allah tetapkan.
Apakah salah punya perasaan kepada orang beda agama?
Munculnya rasa sering datang tanpa diminta, dan pada dirinya bukan dosa yang perlu membuat kita menghukum diri. Yang dinilai adalah apa yang kita lakukan dengan rasa itu. Memeliharanya, mengarahkannya ke hubungan, atau berharap ia berujung pada pernikahan yang jalannya memang tertutup, itulah yang perlu dihentikan. Mengakui rasa itu jujur, tapi menjaganya agar tidak dibawa ke jalan yang dilarang adalah bagian dari ketaatan.
Bagaimana kalau perasaan beda agama itu sangat kuat dan sulit dilepas?
Beratnya melepas tidak mengubah hukumnya, tapi juga tidak berarti kita dibiarkan sendirian menanggungnya. Semakin lama rasa itu dipelihara pada jalan yang tertutup, semakin dalam lukanya nanti. Yang lebih menyelamatkan adalah menjaga pandangan dan jarak, mengembalikan hati kepada Allah, dan memberi waktu bagi rasa itu untuk mereda, sambil mengarahkan langkah pada jalan yang terbuka menuju pasangan yang seiman.

← Semua tulisan