Didesak Menikah Padahal Belum Siap: Antara Taat dan Jujur
Ada desakan yang datang dari orang-orang yang paling menyayangi kita. Orang tua yang bertanya kapan, kerabat yang menyinggung di setiap acara keluarga, ibu yang matanya berharap. Dan di sisi lain, ada suara di dalam diri yang pelan tapi jujur, yang berkata: aku belum siap.
Kita terjepit di antara keduanya. Ingin membahagiakan mereka, tapi juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Kalau kita sedang berada di posisi itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk memihak salah satu, tapi untuk membantu mendudukkannya dengan tenang.
Dua hal yang sering tercampur jadi satu
Yang membuat posisi ini terasa berat adalah karena dua hal berbeda kita rasakan sebagai satu beban.
Yang pertama, dorongan orang tua agar kita menikah. Ini hampir selalu lahir dari kasih sayang. Mereka ingin melihat kita terjaga, punya teman hidup, tidak sendirian di hari tua. Dorongan seperti ini perlu kita hormati, bukan kita lawan.
Yang kedua, tekanan sebagai satu-satunya alasan untuk memutuskan menikah sekarang. Ini hal yang berbeda, dan inilah yang perlu diperiksa dengan jujur. Menghormati orang tua adalah satu hal. Menikah semata karena tidak tahan didesak adalah hal lain.
Kalau kita bisa memisahkan keduanya, beban itu mulai bisa diletakkan pada tempatnya masing-masing.
Kenapa tekanan bukan alasan yang cukup untuk memutuskan
Menikah bukan sekadar peristiwa. Ia keputusan yang akan kita jalani setiap hari sesudahnya. Dan setiap keputusan besar berangkat dari niat, yang menentukan arah seluruh perjalanan setelahnya.
Hadits
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."
HR. Bukhari dan Muslim
Seseorang yang menikah karena tekanan keluarga akan mengambil keputusan yang berbeda di tengah proses dibanding seseorang yang menikah karena Allah. Ketika alasannya hanya untuk berhenti didesak, ia cenderung menutup mata pada hal-hal yang seharusnya diperiksa lebih kritis, karena yang penting baginya adalah desakan itu berhenti.
Keputusan besar yang diambil semata karena tekanan, tanpa kesiapan yang sesungguhnya, hampir selalu menciptakan masalah yang lebih besar dari tekanan itu sendiri. Tekanannya hari ini terasa berat. Tapi rumah tangga yang dibangun di atas alasan yang rapuh akan terasa jauh lebih berat, dan kali ini ada orang lain yang ikut menanggungnya.
Menghormati orang tua tidak berarti mematikan kejujuran
Lalu apakah jalan keluarnya melawan orang tua? Tidak. Itu bukan yang Islam ajarkan, dan bukan itu yang sedang kita cari.
Menghormati orang tua dan jujur tentang kondisi diri bukan dua hal yang saling meniadakan. Kita bisa menyampaikan bahwa kita mendengar harapan mereka, bahwa kita pun menginginkan hal yang sama, sambil jujur bahwa ada yang masih perlu kita siapkan lebih dulu. Yang membedakannya dari sekadar menolak adalah caranya, dan yang kita tunjukkan sesudahnya.
Karena “belum siap” bisa menjadi dua hal yang sangat berbeda. Ia bisa menjadi alasan untuk menunda tanpa gerak, dan ini yang membuat orang tua wajar merasa khawatir. Atau ia bisa menjadi titik mulai untuk bergerak, dengan menunjukkan langkah nyata menyiapkan diri. Yang kedua ini justru sering menenangkan orang tua lebih dari sekadar kata “iya” yang diucapkan karena terdesak.
Kesiapan bukan soal sempurna dulu, tapi soal jujur hari ini
Kalau begitu, kesiapan yang dimaksud itu seperti apa? Bukan soal menunggu sampai sempurna. Tapi soal jujur tentang kondisi kita hari ini, lalu bergerak ke arah yang benar sebelum proses dimulai.
Hadits
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu menikah, hendaklah ia menikah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah benteng baginya."
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini berbicara tentang kemampuan, bukan hanya finansial, tapi keseluruhan kesiapan. Menikah sebelum mampu tidak menyelesaikan masalah, ia hanya memindahkan bebannya ke orang lain. Apa pun yang belum selesai dalam diri kita akan terbawa masuk ke pernikahan. Ia tidak menghilang hanya karena status sudah berubah.
Dan pada akhirnya, kesiapan itu bagian dari tanggung jawab yang lebih besar.
Al-Qur'an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
QS. At-Tahrim: 6
Menjaga keluarga dimulai dari menjaga diri sendiri. Maka menyiapkan diri sebelum menikah bukan bentuk menunda-nunda, ia bentuk menunaikan amanah sejak sebelum amanah itu datang.
Mengubah desakan menjadi langkah, bukan pertengkaran
Di sinilah posisi yang tadinya terjepit bisa berubah menjadi arah.
Desakan yang selama ini terasa seperti beban bisa kita jadikan dorongan untuk mulai bergerak, bukan untuk melawan dan bukan untuk menyerah karena lelah. Kita mulai memeriksa kesiapan diri dengan jujur, ibadah kita, akhlak dan cara kita mengelola emosi, kondisi kita, lalu membenahi yang perlu dibenahi. Kita tunjukkan kepada orang tua bahwa kita tidak sedang menghindar, tapi sedang menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh menuju hal yang mereka harapkan juga.
Ketika langkah ini yang kita ambil, dua hal yang tadinya bertabrakan mulai searah. Orang tua melihat kesungguhan, dan hati kita tidak lagi mengkhianati kejujurannya sendiri. Niat pun kembali ke tempatnya, bukan untuk berhenti didesak, tapi karena Allah.
Kalau kita ingin memulai dari memeriksa kesiapan diri dengan jujur, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.