Lelah Menunggu Jodoh: Ketika Sudah Ikhtiar tapi Belum Datang Juga

Ilustrasi untuk "Lelah Menunggu Jodoh: Ketika Sudah Ikhtiar tapi Belum Datang Juga"

Kebanyakan tulisan tentang menunggu jodoh isinya mirip. Doa ini biar cepat, amalan itu biar dipercepat, tanda-tanda kalau jodoh sudah dekat. Tidak semuanya salah. Tapi ada satu hal yang hampir selalu terlewat. Kenapa menunggu ini melelahkan, dan kenapa hati tidak tenang meski sudah berdoa.

Kalau kita sudah berikhtiar, sudah berdoa, sudah memperbaiki diri, tapi jodoh belum datang juga, dan diam-diam mulai lelah, tulisan ini untuk kita.

Yang lelah sering bukan menunggunya, tapi tempat kita bersandar

Ada lelah yang aneh. Bukan lelah karena terlalu banyak bekerja, tapi lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang dalam bentuk yang kita harapkan.

Kita lelah bukan karena waktunya yang panjang. Kita lelah karena hati kita bekerja terlalu keras untuk sesuatu yang belum ada dan belum bisa kita pegang.

Ini bukan tanda iman kita lemah. Bukan juga tanda kita kurang bersyukur. Pikiran yang berputar-putar soal “kapan” dan “dengan siapa” itu tanda hati sedang minta ketenangan, tapi mencarinya pada jodoh yang belum datang. Padahal di situ ketenangan itu memang tidak ada.

Kenapa hati tidak tenang meski tidak ada yang salah hari ini

Kita menghitung usia, membandingkan dengan teman yang sudah lebih dulu, menganalisis setiap tanda, karena kita butuh kepastian. Tapi kepastian itu tidak ada di sana. Kapan jodoh datang bukan sesuatu yang bisa kita pegang, dan menaruh tenang di atasnya seperti mencari air di gurun, lalu heran kenapa terus haus.

Ada yang Allah firmankan, dan ini bukan sekadar ayat yang indah dibaca. Ini diagnosis.

Al-Qur'an

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

"Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah."

Al-Baqarah: 165

Tandingan. Bukan selalu berupa seseorang. Kadang yang kita tempatkan di posisi Allah adalah sebuah hasil. Pernikahan itu sendiri, hari ketika akhirnya jodoh datang, gambaran hidup yang kita bayangkan setelahnya. Kita meletakkan tenang kita di sana, padahal sumber ketenangan hanya milik Allah.

Hati yang menggantungkan tenang pada sesuatu selain Allah tidak akan pernah benar-benar penuh. Ia seperti ember berlubang di dasarnya. Kita terus menuangkan harapan, terus mengisinya dengan menunggu dan menduga, tapi ia terus kosong.

Yang menunggu kita justru Dia, di sepertiga malam

Kita merasa sedang menunggu. Tapi di malam-malam yang paling sunyi, ketika semua orang sudah terlelap dan tidak ada yang bisa kita hubungi, sebenarnya ada yang sedang menanti kita lebih dulu.

Hadits

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

"Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, pada sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni."

HR. Bukhari & Muslim

Di saat kita merasa paling sendirian menunggu, di situ justru Allah sedang memanggil. Bukan kita yang menunggu Dia, tapi Dia yang menunggu kita. Dia yang menciptakan hati kita tahu persis apa yang sedang kita cari, apa yang kita rindukan, apa yang kita takutkan.

Menunggu tidak lagi terasa seperti diabaikan ketika kita tahu bahwa Yang memegang hasilnya adalah Yang paling dekat dengan kita, lebih dekat dari nafas kita sendiri.

Ikhtiar itu bagian kita, hasil itu bagian Allah

Di sinilah beban itu bisa diletakkan. Ada dua hal yang sering kita campur jadi satu, lalu kita pikul dua-duanya sampai lelah.

Yang pertama adalah ikhtiar, dan itu bagian kita. Membenahi diri, menyiapkan kesiapan, memantaskan diri, menempuh jalan yang dijaga menuju pernikahan. Ini yang Allah minta dari kita, dan ini yang bisa kita kerjakan hari ini.

Yang kedua adalah hasil. Kapan jodoh datang, dan dengan siapa. Ini bukan bagian kita. Ini sepenuhnya bagian Allah, dan Dia yang paling tahu waktunya.

Lelah yang kita rasakan biasanya bukan karena kurang ikhtiar. Ia datang karena kita ikut memikul hasil, sesuatu yang memang tidak pernah menjadi tugas kita untuk menanggungnya. Ketika hasil kita kembalikan kepada Allah, ikhtiar tetap jalan, tapi hati berhenti mencekik diri sendiri.

Maka menunggu dengan tenang bukan berarti diam dan pasrah tanpa berbuat. Ia berarti tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sambil melepaskan hasil kepada Yang memegangnya.

Ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri, bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk mulai jujur. Selama ini, ketika gelisah menunggu, ke mana kita berlari untuk pertama kali? Kalau Allah bukan yang pertama, kalau tenang kita bergantung pada kabar bahwa jodoh sudah dekat, di sanalah akar lelah kita bertumbuh.

Al-Qur'an

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Ar-Ra'd: 28

Hanya. Bukan salah satunya. Hanya.

Kalau menunggu terasa berat, mungkin langkah pertamanya bukan mempercepat datangnya jodoh, tapi mengembalikan tempat hati bersandar lebih dulu, lalu memakai waktu menunggu ini untuk menyiapkan diri. Bukan supaya jodoh datang lebih cepat, tapi supaya ketika waktunya tiba, kita sudah lebih siap, dan sepanjang menunggu pun hati sudah lebih tenang.

Kalau kita ingin memulai dari menyiapkan diri, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Bagaimana cara sabar menunggu jodoh dalam Islam?
Sabar di sini bukan sekadar menahan diri sampai jodoh datang, tapi mengembalikan tempat hati bersandar kepada Allah, bukan pada kepastian kapan jodoh tiba. Ketika sumber ketenangan kita adalah Allah dan bukan hasil yang belum ada, menunggu berhenti terasa seperti siksaan dan mulai terasa seperti perjalanan yang ditemani.
Kenapa menunggu jodoh terasa begitu melelahkan?
Karena sering kali yang melelahkan bukan lamanya waktu, tapi hati yang menggantungkan tenang pada sesuatu yang belum ada dan belum pasti. Menganalisis setiap tanda, menduga-duga, dan menaruh harapan pada hasil yang bukan di tangan kita membuat hati bekerja terlalu keras. Ia seperti ember berlubang yang terus diisi harapan, tapi terus kosong.
Apakah cukup berdoa saja, atau harus tetap berikhtiar?
Keduanya, tapi pada tempatnya masing-masing. Ikhtiar adalah bagian kita, yaitu membenahi diri, menyiapkan kesiapan, menempuh jalan yang dijaga. Hasil, termasuk kapan dan dengan siapa, adalah bagian Allah. Yang membuat lelah biasanya bukan kurang ikhtiar, tapi memikul beban hasil yang memang bukan tugas kita untuk menanggungnya.

← Semua tulisan