Taaruf tapi Belum Ada Rasa: Yang Dicari Ketenteraman, Bukan Deg-degan

Ilustrasi untuk "Taaruf tapi Belum Ada Rasa: Yang Dicari Ketenteraman, Bukan Deg-degan"

Ada situasi yang jarang diceritakan orang. Sedang menjalani ta’aruf dengan seseorang yang agamanya baik, akhlaknya terjaga, dan prosesnya berjalan lancar. Tapi ada satu hal yang mengganjal di dalam hati: belum ada rasa. Belum ada deg-degan seperti yang orang-orang ceritakan, belum ada getaran yang katanya jadi tanda bahwa ini “dia”.

Kalau kita sedang berada di situ, tulisan ini untuk kita. Karena keraguan ini sering lahir dari satu salah paham tentang apa sebenarnya yang sedang kita cari.

Belum ada getaran, dan kamu diam-diam bertanya apa itu tanda buruk

Keraguannya biasa terdengar seperti ini di dalam hati. Kalau memang dia jodohku, kenapa aku biasa saja? Kenapa aku tidak merasakan yang orang lain ceritakan? Apakah aku harus menunggu jatuh cinta dulu baru berani melanjutkan?

Pertanyaan itu wajar. Tapi ada yang perlu kita periksa lebih dulu: dari mana kita mendapat standar bahwa rasa yang menggebu harus hadir duluan? Sering kali standar itu bukan datang dari Islam, tapi dari cerita, lagu, dan tontonan yang kita serap sejak muda, yang mengajarkan bahwa cinta selalu dimulai dengan deg-degan.

Taaruf bukan ketiadaan perasaan, tapi juga bukan tuntutan cinta duluan

Ada dua salah paham yang perlu diluruskan sekaligus.

Yang pertama, anggapan bahwa ta’aruf adalah proses yang dingin dan tanpa rasa, dua orang asing yang saling menilai seperti wawancara kerja. Bukan itu gambarannya. Ta’aruf adalah proses mengenal dengan hati yang terjaga. Perasaan boleh ada, ketertarikan boleh ada, dan itu manusiawi.

Yang kedua, anggapan sebaliknya, bahwa cinta yang menggebu harus hadir lebih dulu sebelum sebuah proses layak dilanjutkan. Ini juga tidak benar. Menuntut deg-degan hadir di awal sebagai syarat justru sering membuat kita menolak orang yang baik hanya karena hati kita belum sempat mengenalnya.

Perasaan bukan dilarang, tapi ia juga bukan syarat yang menentukan segalanya.

Yang sebenarnya dicari bukan deg-degan, tapi ketenteraman

Kalau bukan getaran, lalu apa yang sebenarnya kita cari? Jawabannya ada dalam apa yang Allah sebutkan sendiri tentang pernikahan.

Al-Qur'an

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

"Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Ia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."

Ar-Rum: 21

Perhatikan kata yang dipakai. Litaskunu, agar kamu merasa tenteram. Bukan deg-degan yang tidak menentu, bukan bahagia yang diselingi cemas berkepanjangan, tapi tenteram. Sakinah. Ketenangan yang lahir dari hubungan yang benar sejak fondasinya.

Kalau saat menjalani ta’aruf ini hati kita justru merasa tenang, tidak dihantui tanda tanya, tidak menebak-nebak arah, itu bukan tanda buruk. Itu justru dekat dengan apa yang Allah sebut sebagai tujuan pernikahan.

Cinta yang sejati dibangun dan ditumbuhkan, bukan disyaratkan lebih dulu

Lalu bagaimana dengan cinta? Cinta tidak hilang dari gambaran ini. Ia hanya diletakkan pada tempatnya.

Dalam ayat tadi, mawaddah dan rahmah, rasa kasih dan sayang, disebut sebagai sesuatu yang Allah jadikan di antara pasangan. Ia buah dari pernikahan, bukan syarat sebelumnya. Cinta yang sejati lebih sering dibangun dan ditumbuhkan setelah ada ikatan yang sah, dirawat lewat kesabaran dan kebaikan sehari-hari, bukan sekadar getaran yang datang duluan lalu kita tunggu buktinya.

Maka belum adanya rasa yang menggebu di awal bukan tanda proses ini gagal. Banyak yang memulai dengan rasa yang biasa saja, lalu tumbuh menjadi cinta yang jauh lebih dalam dan lebih kokoh dari sekadar deg-degan, karena cinta itu dibangun di atas komitmen, bukan hanya di atas perasaan.

Yang perlu diperiksa bukan getarannya, tapi agama dan ketenangannya

Kalau begitu, apa yang sebenarnya perlu kita periksa ketika ragu? Bukan ada atau tidaknya getaran, tapi hal-hal yang memang jadi penentu.

Apakah agama dan akhlaknya baik, karena inilah yang menjadi fondasi. Apakah ada kecocokan yang cukup untuk membangun rumah tangga. Dan apakah hati kita merasa tenang menjalaninya, bukan tenang karena tidak ada tantangan, tapi tenang karena prosesnya dijaga dan Allah ada di dalamnya.

Kalau ketiganya ada, belum adanya deg-degan bukan alasan untuk mundur. Sebaliknya, kalau yang menahan kita justru soal agama atau kecocokan yang mendasar, itu baru pertimbangan yang perlu ditimbang serius, lewat cara yang dijaga dan dengan melibatkan perantara.

Kalau kita ingin mengenali calon dengan hati yang tenang, tanpa terjebak menuntut getaran yang belum tentu jadi ukuran, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah harus ada rasa cinta dulu sebelum lanjut taaruf?
Tidak harus. Perasaan atau ketertarikan boleh ada, tapi ia bukan syarat yang harus hadir lebih dulu agar sebuah proses layak dilanjutkan. Dalam Islam, cinta yang sejati lebih sering dibangun dan ditumbuhkan setelah ada ikatan yang sah, bukan disyaratkan menggebu di awal. Yang lebih penting dinilai adalah agama, akhlak, dan apakah hati merasa tenang menjalaninya, bukan ada atau tidaknya getaran.
Taaruf tapi belum ada rasa, apa berarti dia bukan jodoh?
Belum tentu. Belum adanya getaran bukan tanda pasti bahwa dia bukan jodoh. Banyak orang memulai dengan rasa yang biasa saja lalu tumbuh menjadi cinta yang dalam setelah menikah, karena cinta yang benar dibangun di atas komitmen, bukan hanya di atas perasaan yang datang duluan. Yang perlu diperiksa adalah apakah agama dan akhlaknya cocok, dan apakah hati merasa tenang, bukan sekadar apakah ada deg-degan.
Apakah cinta bisa tumbuh setelah menikah?
Bisa, dan justru begitulah cinta yang dijanjikan dalam Islam bekerja. Allah menyebutkan bahwa Dia menjadikan di antara pasangan mawaddah dan rahmah, rasa kasih dan sayang, sebagai buah dari pernikahan, bukan sebagai syarat sebelumnya. Ketenteraman dan cinta ditumbuhkan bersama di dalam ikatan yang sah, dirawat lewat kesabaran dan kebaikan, bukan hanya ditunggu datang dengan sendirinya.

← Semua tulisan