Kesepian dan Ingin Cepat Menikah: Yang Dicari Hati Bukan Teman Biasa

Ilustrasi untuk "Kesepian dan Ingin Cepat Menikah: Yang Dicari Hati Bukan Teman Biasa"

Ada sepi yang datang di jam-jam tertentu. Ketika hari sudah selesai, ketika rumah sunyi, ketika lini masa penuh orang lain yang tampak punya seseorang untuk pulang. Dan di tengah sepi itu, muncul satu keinginan yang terasa mendesak: ingin cepat menikah, biar ada yang menemani.

Kalau kita mengenali perasaan itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk melarang menikah, dan bukan untuk menyalahkan rasa sepi, tapi untuk melihatnya dengan jujur sebelum ia menuntun kita ke keputusan yang tergesa.

Kesepian itu nyata, dan kamu tidak perlu malu merasakannya

Pertama-tama, kesepian bukan aib. Bukan tanda iman yang lemah, bukan tanda kita kurang bersyukur. Ia rasa yang manusiawi, dan bahkan orang-orang yang paling dekat dengan Allah pun mengenal rasa ini.

Ingin punya teman hidup, ingin ada yang menemani, ingin berbagi hari, itu semua fitrah yang Allah letakkan dalam diri kita. Jadi tidak apa-apa mengakui bahwa kita kesepian. Mengakuinya bukan kelemahan, ia justru langkah pertama untuk tidak dikendalikan olehnya.

Ketika sepi diam-diam jadi alasan terbesar ingin menikah

Yang perlu kita periksa bukan rasa sepinya, tapi ketika ia diam-diam menjadi alasan terbesar, bahkan satu-satunya, di balik keinginan untuk menikah.

Menikah adalah keputusan besar yang akan kita jalani seumur hidup. Dan keputusan sebesar itu, kalau diambil semata untuk lari dari sesuatu, akan membawa serta hal yang kita larikan itu ke dalam rumah tangga. Menikah untuk berhenti kesepian menaruh beban yang berat di pundak pernikahan, dan lebih berat lagi di pundak orang yang kita ajak menikah.

Karena ada yang perlu kita jujuri: pernikahan tidak dirancang untuk menjadi obat kesepian.

Pernikahan tidak menghilangkan kesepian, ia mengubah bentuknya

Ini kalimat yang mungkin tidak nyaman didengar, tapi jujur. Pernikahan tidak menghilangkan kesepian, ia mengubah bentuknya.

Masalah yang tidak diselesaikan sebelum akad tidak hilang setelah akad. Ia hanya berganti konteks, dan sekarang ada dua orang yang menanggungnya. Banyak yang mengira sepi akan lenyap begitu ada pasangan di samping, lalu terkejut menemukan bentuk sepi yang baru: kesepian justru ketika sedang berdua, ketika ada orang di sebelah tapi hati tetap terasa sendiri.

Itu bukan karena pasangannya buruk atau pernikahannya gagal. Itu karena sepi yang paling dalam memang tidak pernah bisa diisi hanya dengan kehadiran orang lain.

Yang dicari hati sebenarnya bukan sekadar teman

Kalau sepi yang paling dalam tidak hilang dengan kehadiran manusia, lalu sebenarnya apa yang sedang dicari hati?

Hati kita mencari sandaran. Tempat untuk bergantung, tempat merasa aman, tempat menaruh tenang. Dan ketika kita meletakkan seluruh sandaran itu pada seorang manusia, hati akan tetap terasa kosong, karena manusia tidak diciptakan untuk menanggung beban menjadi sumber tenang bagi orang lain. Ia sendiri lemah, ia sendiri butuh disandari.

Al-Qur'an

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Ar-Ra'd: 28

Hanya. Bukan salah satunya. Ketenangan yang paling dalam, yang membuat kita tidak lagi merasa sepi bahkan ketika sedang sendiri, hanya Allah yang menyediakannya. Ketika sandaran itu sudah kembali ke tempatnya, kesepian tidak lenyap seluruhnya, tapi ia berhenti menjadi luka yang mendesak kita mengambil keputusan tergesa.

Menikah tetap baik, tapi bukan sebagai pelarian

Semua ini bukan untuk menahan kita menikah. Menikah tetap baik, tetap ibadah, tetap jalan yang Allah muliakan. Yang sedang kita luruskan adalah niat di baliknya.

Hadits

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

HR. Bukhari dan Muslim

Niat menikah yang paling dalam bukan karena ingin tidak sendirian, meski rasa itu nyata dan manusiawi. Niat yang paling dalam adalah karena Allah, ingin membangun rumah yang di dalamnya nama-Nya disebut, dan menempuh separuh agama dengan cara yang Dia ridhai. Ketika ini yang menjadi dasar, kesepian boleh tetap ada sebagai salah satu latar, tapi ia tidak lagi menjadi tangan yang mendorong kita buru-buru.

Maka langkah pertamanya bukan mempercepat pernikahan, tapi mengembalikan sandaran hati lebih dulu kepada Allah, lalu menyiapkan diri dengan tenang. Supaya ketika waktunya tiba, kita menikah bukan untuk melarikan diri dari sepi, tapi untuk menempuh jalan pulang menuju Allah bersama seseorang.

Kalau kita ingin mengembalikan sandaran hati lebih dulu, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah boleh menikah karena kesepian?
Merasa kesepian dan ingin punya teman hidup adalah hal yang manusiawi, dan itu tidak salah. Yang perlu diperiksa adalah ketika kesepian menjadi satu-satunya alasan, karena keputusan sebesar menikah yang diambil semata untuk lari dari sepi rentan menyimpan kekecewaan. Pernikahan tidak menghilangkan kesepian, ia mengubah bentuknya. Menikah sebaiknya berangkat dari kesiapan dan niat karena Allah, dengan kesepian sebagai salah satu latar, bukan satu-satunya pendorong.
Kenapa masih merasa kesepian padahal sudah menikah?
Karena kesepian yang paling dalam bukan soal ada atau tidaknya orang di samping kita, tapi soal ke mana hati mencari sandaran. Masalah yang tidak selesai sebelum akad tidak hilang setelah akad, ia hanya berganti konteks. Ketika hati menggantungkan seluruh ketenangan pada pasangan, ia akan tetap terasa kosong, karena manusia tidak diciptakan untuk menjadi sumber tenang yang menggantikan Allah.
Bagaimana Islam memandang rasa kesepian?
Islam tidak menyuruh kita berpura-pura tidak kesepian. Rasa itu diakui sebagai bagian dari ujian dan bagian dari cara hati mencari. Yang diajarkan adalah ke mana rasa itu diarahkan. Ketenangan sejati dijanjikan bukan pada kehadiran manusia, tapi pada mengingat Allah. Ketika sandaran hati kembali kepada-Nya, kesepian tidak lagi menjadi luka yang mendesak kita mengambil keputusan tergesa.

← Semua tulisan