Teman Sudah Menikah Duluan, Aku Belum: Membandingkan Itu Melukai Hati
Ada satu momen yang mungkin kita kenali. Membuka ponsel, dan di sana ada lagi undangan pernikahan. Atau foto akad seorang teman, lengkap dengan ucapan selamat yang mengalir di kolom komentar. Kita ikut mengetik selamat, dan itu tulus. Tapi setelah ponsel diletakkan, ada rasa yang tertinggal di dada, dan rasa itu tidak seindah ucapan yang tadi kita kirim.
Teman-teman sudah pada menikah. Dan kita belum. Kalau kita sedang merasakan itu, tulisan ini untuk kita.
Sedihnya nyata, dan kamu tidak perlu berpura-pura tidak merasakannya
Ada satu hal yang perlu dijujuri lebih dulu. Sedih itu nyata, dan tidak perlu ditutupi dengan kalimat rohani yang buru-buru.
Ikut senang atas kebahagiaan teman dan merasa sedih atas kondisi sendiri bisa hadir bersamaan. Keduanya manusiawi. Kita tidak sedang munafik karena merasakan keduanya sekaligus. Memaksa diri untuk hanya merasa bahagia, sambil menekan sedih yang sebenarnya ada, justru membuat rasa itu tidak selesai, hanya tenggelam sebentar lalu muncul lagi.
Jadi tidak apa-apa mengakui bahwa ini terasa berat. Mengakuinya bukan tanda iman yang lemah. Ia langkah pertama untuk mendudukkannya dengan benar.
Yang melukai sering bukan keadaanmu, tapi kebiasaan membandingkan
Tapi kalau kita perhatikan lebih dekat, yang paling melukai sering bukan kenyataan bahwa kita belum menikah. Yang melukai adalah membandingkan kenyataan itu dengan hidup orang lain.
Belum menikah, dengan sendirinya, bukan penderitaan. Ia jadi terasa seperti kekurangan justru ketika diletakkan di sebelah pernikahan orang lain, lalu kita menyimpulkan ada yang salah dengan diri kita. Layar mempercepat semuanya. Yang kita lihat di sana adalah versi paling indah dari hidup orang, momen bahagia yang dipilih untuk ditampilkan, bukan keseluruhan cerita.
Kita membandingkan bagian dalam diri kita, lengkap dengan gelisah dan ragunya, dengan bagian luar hidup orang lain yang sudah dipoles. Perbandingan itu tidak pernah adil, dan tidak pernah membawa kita ke tempat yang lebih tenang.
Membanding-bandingkan adalah salah satu fitnah, bukan sekadar perasaan
Dalam Islam, membanding-bandingkan bukan sekadar kebiasaan yang kurang baik. Ia disebut sebagai salah satu fitnah yang menjerumuskan.
Melihat kehidupan orang lain lalu membandingkannya dengan kondisi sendiri membuahkan rasa tidak puas, menuntut apa yang belum Allah tetapkan, dan kecewa pada takdir yang sedang kita jalani. Ia mengalihkan pandangan kita dari apa yang Allah beri kepada apa yang Allah beri kepada orang lain. Dan hati yang sibuk menghitung milik orang lain akan selalu merasa kurang, sebanyak apa pun yang sebenarnya ia punya.
Al-Qur'an
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
"Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah."
Al-Baqarah: 165
Kadang yang kita tempatkan di posisi Allah bukan berupa seseorang, tapi sebuah gambaran hidup. Pernikahan di usia tertentu, jalan hidup yang seragam dengan teman-teman, garis waktu yang kita anggap seharusnya. Ketika gambaran itu yang menentukan tenang atau tidaknya kita, di sanalah hati mulai bergantung pada yang bukan tempatnya.
Waktu menikah itu ketetapan Allah, bukan ukuran nilai dirimu
Perasaan tertinggal berdiri di atas satu anggapan yang jarang kita periksa: bahwa ada satu garis waktu yang sama untuk semua orang, dan siapa yang belum sampai berarti gagal.
Anggapan itu tidak benar. Waktu menikah adalah ketetapan Allah, dan Dia menetapkannya berbeda-beda untuk setiap orang, dengan hikmah yang tidak selalu bisa kita lihat dari titik kita berdiri sekarang. Belum menikah di usia tertentu bukan tanda ada yang salah dengan diri kita, bukan tanda kita kurang berharga, bukan tanda kita ditinggalkan.
Rezeki, termasuk jodoh dan waktunya, tidak dibagikan dengan ukuran yang sama karena bukan itu cara Allah bekerja. Yang diminta dari kita bukan menyamai langkah orang lain, tapi menempuh langkah kita sendiri dengan cara yang dijaga.
Alihkan mata dari layar, kembalikan hati pada sandaran yang benar
Maka langkahnya bukan memaksa diri berhenti sedih, dan bukan pula terus memberi makan luka dengan menatap hidup orang lain berjam-jam.
Ada dua langkah yang lebih menolong. Yang pertama sederhana tapi nyata: kurangi hal yang menyulut perbandingan itu. Kalau layar penuh undangan dan foto pernikahan membuat hati terus terluka, memberi jarak dari sana bukan tanda iri, tapi tanda menjaga hati. Yang kedua lebih dalam: kembalikan tempat hati bersandar.
Al-Qur'an
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
Ar-Ra'd: 28
Ketenangan yang kita cari saat melihat orang lain melangkah lebih dulu tidak akan datang dari ikut melangkah buru-buru. Ia datang dari mengingat bahwa yang mengatur waktu kita adalah Yang paling tahu dan paling sayang kepada kita.
Dan ketika hati sudah kembali bersandar dengan benar, waktu menunggu ini tidak lagi terasa seperti tertinggal. Ia berubah menjadi ruang untuk menyiapkan diri, supaya ketika waktunya tiba, kita bukan hanya menyusul, tapi datang dengan kesiapan yang sudah dibangun.
Kalau kita ingin memakai waktu ini untuk menyiapkan diri, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.