Takut Miskin Setelah Menikah: Ikhtiar Bagian Kita, Rezeki Bagian Allah
Ada ketakutan yang membuat sebagian orang menahan langkah menuju pernikahan. Bukan takut pada pasangannya, bukan takut pada prosesnya, tapi takut pada satu hal: bagaimana kalau setelah menikah nanti kami jatuh miskin? Bagaimana kalau nanti punya anak dan penghasilan tidak cukup? Bagaimana kalau aku tidak sanggup menghidupi keluarga?
Kalau kita pernah dihantui pikiran seperti itu, tulisan ini untuk kita. Bukan untuk meremehkan ketakutan itu, tapi untuk mendudukkannya di tempat yang benar.
Takut ini wajar, karena ia lahir dari rasa tanggung jawab
Hal pertama yang perlu ditegaskan: takut seperti ini bukan tanda iman yang lemah. Ia sering justru lahir dari rasa tanggung jawab, dari kesadaran bahwa menafkahi keluarga adalah amanah yang berat.
Orang yang sama sekali tidak memikirkan hal ini, yang menikah tanpa pernah bertanya bagaimana ia akan menafkahi, justru lebih perlu dikhawatirkan. Jadi kalau kita memikirkannya, itu tanda kita menganggapnya serius. Yang perlu diperiksa bukan adanya takut itu, tapi kadarnya dan ke mana ia mengarahkan kita.
Tapi periksa dulu, ini soal ikhtiar atau soal ke mana hati bersandar
Takut soal rezeki bisa berdiri di atas dua hal yang sangat berbeda.
Ia bisa menjadi dorongan yang sehat, yang membuat kita berikhtiar, mencari penghasilan halal, membereskan keuangan, dan merencanakan dengan jujur. Takut seperti ini menggerakkan, bukan melumpuhkan.
Tapi ia juga bisa berubah menjadi ketakutan yang berbeda, yang membuat kita lumpuh, menunda terus tanpa habisnya, dan diam-diam seakan lupa bahwa rezeki bukan sepenuhnya di tangan kita. Ketika takut sudah sampai ke titik ini, persoalannya bukan lagi soal ikhtiar, tapi soal ke mana hati kita bersandar.
Membedakan keduanya penting, karena keduanya butuh jawaban yang berbeda.
Ikhtiar itu bagian kita, dan itu yang Allah minta
Untuk sisi ikhtiar, Islam tidak menyuruh kita pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya.
Kesiapan finansial yang wajar tetap perlu diusahakan. Punya sumber penghasilan yang halal, tidak menyembunyikan masalah keuangan dari calon, dan sanggup memikul tanggung jawab pada tingkat yang masuk akal. Ini bukan tentang harus kaya lebih dulu, tapi tentang tidak menutup mata dari kenyataan. Menikah tanpa kesiapan apa pun lalu menyerahkan segalanya pada nasib bukan tawakal, itu mengabaikan bagian yang memang menjadi tugas kita.
Ikhtiar adalah bagian kita, dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh adalah bentuk tanggung jawab, bukan tanda kurang percaya kepada Allah.
Rezeki itu bagian Allah, dan Dia tidak pernah lupa
Tapi setelah ikhtiar dikerjakan, ada bagian yang bukan milik kita untuk mengendalikannya. Berapa yang Allah cukupkan, dan dari mana. Dan di sinilah letak ketenangan yang selama ini mungkin kita lewatkan.
Al-Qur'an
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
At-Thalaq: 2-3
Dari arah yang tidak disangka-sangka. Ini janji Allah, dan Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. Banyak rezeki datang lewat pintu yang tidak pernah kita hitung sebelumnya, lewat jalan yang tidak ada dalam rencana kita. Bukan berarti kita berhenti merencanakan, tapi berarti kita tidak perlu memikul beban seolah seluruh masa depan tergantung pada hitungan kita sendiri.
Rezeki anak pun tidak dibebankan seluruhnya kepada kita. Setiap jiwa yang Allah hadirkan, Allah pula yang menjamin rezekinya. Tugas kita adalah berikhtiar dan menjaga, bukan menciptakan rezeki dari nol.
Takut miskin yang berlebihan perlu diperiksa
Ada satu hal terakhir yang perlu kita jujuri. Ketika takut miskin sudah begitu besar sampai melumpuhkan, sampai membuat kita menunda tanpa batas dan cemas berkepanjangan, ketakutan itu sendiri perlu diperiksa.
Karena di baliknya sering ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita lebih percaya pada hitungan dan tabungan kita sendiri, atau pada Allah Yang Maha Kaya, yang menanggung rezeki seluruh makhluk tanpa pernah berkurang? Takut yang wajar mengajak kita berikhtiar lalu bertawakal. Takut yang berlebihan diam-diam menaruh rasa aman kita pada angka, bukan pada Allah.
Maka menyiapkan diri menghadapi ketakutan ini punya dua sisi. Membenahi ikhtiarnya, dan menenangkan sandarannya. Menyiapkan penghasilan dan rencana yang wajar, sambil mengembalikan tempat hati bergantung kepada Allah, bukan pada jaminan angka yang tidak pernah terasa cukup.
Kalau kita ingin menyiapkan ikhtiarnya sekaligus menenangkan sandarannya, dengan panduan yang menemaninya, kita bisa mulai dari sana.